Showing posts with label pesawat. Show all posts
Showing posts with label pesawat. Show all posts

Wednesday, April 17, 2013

Bahan bakar pesawat terbang (bagian 1 - jenis)

Ada dua jenis bahan bakar yang umum dipakai pada mesin pesawat yaitu Avgas dan aviation kerosine. Pesawat terbang bermesin piston hanya mau mengonsumsi aviation gasoline alias avgas, dan penyandang mesin turbin lebih pas dengan aviation kerosine. Nah, apa pula beda kedua jenis bahan bakar ini? Beda dari kedua jenis bahan bakar ternyata ada pada sifat titik didih. Avgas yang sejatinya adalah campuran minyak tanah dengan hidrokarbon cair berkisar antara 32-220° Celcius. Sementara aviation kerosine lebih tinggi, yakni antara 144-252° Celcius.

Pembedaan ini paling tidak muncul sebagai syarat baku lantaran metal ruang bakar mesin punya toleransi beragam terhadap panas hasil pembakaran. Mesin piston, sebagaimana laiknya dapur pacu generasi awal, jauh lebih rentan ketimbang mesin turbin yang terbuat dari metal jenis terbaru. Itu sebab, mesin pesawat DC-3 Dakota yang walau hingga kini masih terbang, misalnya, tetap tak bisa beranjak dari avgas.

Namun, apa boleh buat, avgas semakin ketinggalan zaman karena tak mampu memacu pesawat menerobos batas kecepatan subsonik. Mirip seperti yang dipertentangkan antara mobil rumahan dan mobil balap, yang terakhir ini tentu perlu bahan bakar khusus yang mampu menimbulkan panas lebih tinggi. Kuncinya, seperti diketahui bersama, terletak pada "oktan".

Jadi, jika penerbangan jarak jauh ingin dipersingkat, pesawat terbang tak bisa lagi tergantung pada mesin piston. Pemecahannya mau tak mau dengan mesin turbin (turbojet, turbofan, atau turboshaft), yang pada akhirnya menuntut jenis bahan bakar lain yang lebih berenergi. Maka diramulah aviation kerosine.

Namun demikian, sejalan dengan semakin canggihnya mesin turbin itu sendiri, aviation kerosine mengalami beberapa perombakan. Jenis pertama, Jet A, misalnya, hanya cocok digunakan untuk mesin jet generasi awal dengan struktur mesin yang masih sederhana.

Penyempurnaan dari Jet A adalah Jet A-1 atau yang biasa dikenal sebagai avtur. Jenis ini banyak beredar dan digunakan pesawat-pesawat jet komersial. Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) biasa menyebutnya F-35, dan jenis ini pula yang hingga kini masih secara luas digunakan pesawat-pesawat militer sedunia. Mulai dari OV-10 Bronco yang masih dioperasikan TNI AU, sampai Hawk 100/200, bahkan C-130 Hercules.

Boleh jadi karena penggunaan yang luas itulah komposisi avtur kerap "diperkaya". TNI AU , misalnya, pernah menambahkan bahan kimia penghambat pembekuan air, karena yang namanya bahan bakar memang kerap tercemar air. Hal ini paling ditakuti operator penerbangan karena apa jadinya kalau titik-titik air tersebut membeku lalu menutup saluran bahan bakar?

Jika Indonesia bertahan dengan avtur yang diperkaya, negara-negara maju seperti Amerika cenderung memajukan komposisinya dan diproduksi massal. Avtur jenis ini kemudian diberi nama Jet B atau populer pula dengan nama avtag.

Di kalangan militer, turunan avtur seperti itu juga biasa disebut JP-5 atau F-44. Sadar bahwa penerbangan angkatan laut lebih rentan air, AS masih merancang avtag khusus untuk pesawat-pesawat yang biasa ditempatkan di kapal induk. Maka, munculah versi lain yang dinamakan avcat.

Nah, namanya juga Amerika, mereka masih harus memiliki bahan bakar jenis lain khusus untuk pesawat-pesawat terbang intainya yang biasa menjelajah dalam kecepatan dan ketinggian luar biasa. Campur sana, campur sini, jadilah JPTS, bahan bakar dengan titik beku rendah. Maklum di ketinggian lebih dari 80.000 kaki dimana U-2 biasa menjelajah, suhu udara luar bisa mencapai -50° Celcius.

Jenis JPTS pula yang biasa dipakai SR-71 pengintai tercepat di dunia yang bisa melaju hingga lebih dari tiga kali kecepatan suara (Mach 3+).

Selain itu Amerika masih punya satu jenis lagi, yakni JP-10. Jenis terakhir ini bukan untuk konsumsi mesin pesawat, tapi untuk mesin pendorong peluru kendali.

Konsumsi/pemakaian bahan bakar pesawat udara (bagian 1)

(bahasa Inggris: Aircraft fuel consumption)



Dalam menganalisa pemakaian bahan bakar kendaraan, sifatnya relatif dan banyak variabel yang diperhitungkan. Bila pada angkutan darat, pemakaian bahan bakar sangat tergantung pada performa mesin dan berat kendaraan, maka pada angkutan udara, khususnya pada pesawat terbang komersial, faktor yang sangat mempengaruhi pada pemakaian bahan bakar yaitu:

1. Karakteristik dan performa mesin dan sayap (masing-masing model pesawat dan engine berbeda cara kerjanya, usia engine pun berpengaruh terhadap performanya)
2. Berat + beban muatan pesawat (manusia dan atau barang yang diangkut)
3. Kondisi lingkungan (sifat fisika udara seperti suhu, temperatur, tekanan, dan kelembaban, angin, dsb) mempengaruhi ketinggian dan kecepatan optimal pesawat.
4. Posisi heading pesawat, apakah climb/menanjak atau cruise/terbang datar atau berbelok atau descend/menurun.
5. Jenis bahan bakar yang digunakan.



Beragam inovasi pada faktor-faktor tersebut di atas telah dirancang dan diteliti untuk dapat meningkatkan efisiensi pemakaian bahan bakar.

Konsumsi bahan bakar yang umum digunakan dapat dinilai dalam jumlah bahan bakar yang digunakan dibandingkan dengan jarak nyata yang ditempuh.
Jumlah bahan bakar dapat dinyatakan dalam volume atau berat bahan bakarnya.
(satuan konsumsi bahan bakar dalam hal ini yaitu liter/km)

Metode yang juga dipakai dalam merancang performa pesawat yaitu menilai konsumsi bahan bakar berdasarkan penggunaan bahan bakar per satuan waktu (satuannya: liter/detik atau galon/menit)

Konsumsi bahan bakar pesawat dinyatakan ekonomis apabila muatan yang dibawa dan jarak yang ditempuh memiliki nilai yang besar dibandingkan jumlah bahan bakar yang digunakan.

Dalam menentukan konsumsi bahan bakar pesawat harus terlebih dahulu ditentukan jarak tempuh rata-rata perjalanan pesawat tersebut. Dengan menggunakan data statistik waktu tempuh juga dapat ditentukan berapa rata-rata pemakaian bahan bakar per satuan waktu.

Artikel berikut ini dapat menjadi acuan mengenai pemakaian bahan bakar pesawat terbang:

Perlu diingat bahwa selain biaya-biaya operasional lain, pemakaian bahan bakar dan efisiensinya sangat menentukan harga / tarif penerbangan yang biasa kita kenal dalam harga tiket penumpang.

Isu yang juga sering dibahas adalah pengaruh efisiensi bahan bakar terhadap lingkungan dalam kaitannya dengan emisi gas buang dan penggunaan bahan bakar yang hemat energi.

Thursday, March 28, 2013

Kursi pesawat masa kini

Kursi penumpang pada pesawat didesain menampung sebanyak mungkin penumpang dan kadang kala menyampingkan faktor kenyamanan, hal ini sering dikeluhkan pada beberapa penerbangan murah, maklum airline tentu saja ingin mengambil keuntungan dengan banyaknya jumlah penumpang.



Desain sederhana kursi pesawat penumpang dapat dilihat sebagai berikut:



Dengan susunan 3 seat sebagai gambar berikut



Susunan kursi bila dilihat secara potongan melintang pesawat yaitu:

     


Bila dilihat dari atas dapat berbentuk sebagai berikut:
  737-900




Dan sebagai selingan, inilah karikatur untuk anda, semoga membuat anda tersenyum :)